Dalam era globalisasi saat ini, sektor pariwisata merupakan industri terbesar dan terkuat dalam pembiayaan ekonomi global. Sektor pariwisata akan menjadi pendorong utama perekonomian dunia pada abad ke-21 dan menjadi salah satu industri yang mengglobal. Pariwisata telah memberikan devisa yang cukup besar bagi berbagai negara. Kegiatan Pariwisata di Indonesia sudah dilakukan sejak jaman dulu atau lebih tepatnya ketika masa kerajaan. Para pejabat kerajaan diketahui sangat gemar berpetualang walaupun daerah yang bisa dikunjungi terbatas karena terbatasnya sarana dan prasarana pada waktu itu.

Pariwisata sebagai suatu sektor kehidupan, telah mengambil peran penting dalam pembangunan perekonomian bangsa-bangsa di dunia. Kemajuan dan kesejahteraan yang makin tinggi telah menjadikan pariwisata sebagai bagian pokok dari kebutuhan atau gaya hidup manusia, dan menggerakkan jutaan manusia untuk mengenal alam dan budaya ke belahan atau kawasan dunia lainnya. Pergerakan jutaan manusia selanjutnya mengerakkan mata rantai ekonomi yang saling berkaitan menjadi industri jasa yang memberikan kontribusi penting bagi perekonomian dunia, perekonomian bangsa-bangsa, hingga peningkatan kesejahteraan ekonomi di tingkat masyarakat lokal.

Dalam rangka menuju integrasi ekonomi wilayah Asia Tenggara seperti yang tercantum dalam program ASEAN Economic Community (AEC) 2015, sektor pariwisata mulai diperhatikan secara serius oleh negara-negara ASEAN. Dimulai dengan adanya promosi melalui logo dan tagline/slogan pariwisata, Bentuk tagline/slogan tersebut yaitu, Brunei dengan Brunei The Green Heart of Borneo, Cambodia dengan Cambodia Kingdom of Wonder, Indonesia dengan Wonderful Indonesia, Laos dengan Laos Simply Beautiful, Malaysia dengan Malaysia Truly Asia, Myanmar dengan Mystical Myanmar, Philippines dengan It’s More Fun in The Philippines, Singapore dengan Your Singapore, Thailand dengan Amazing Thailand Always Amazes You, Vietnam dengan Vietnam Timeless Charm. ASEAN Tourism memiliki slogan Southeast Asia, Feel The Warmth yang menjadi mencitrakan seluruh pariwisata negara-negara anggota ASEAN, ini semua dibuat agar pariwisata di seluruh negara anggota ASEAN terlihat atraktif dan dapat menjadi pilihan para wisatawan internasional.
Salah satu dari tiga pilar yang menopang Komunitas ASEAN yang terintegrasi adalah Komunitas Ekonomi ASEAN. Sektor pariwisata menjadi sektor pendukung dalam integrasi tersebut, mengingat besarnya peluang dan potensi pariwisata Asia Tenggara yang mampu bersaing dengan kawasan lain di dunia. Hal ini dibuktikan dengan terus meningkatnya jumlah pengunjung dari tahun ke tahun.
Menghadapi globalisasi ekonomi dan persaingan perdagangan ASEAN melalui AFTA (Asean Free Trade Area), ASEAN mempercepat pembentukan MEA yang awalnya akan diimplementasikan pada tahun 2020 kemudian dipercepat menjadi tahun 2015. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan daya saing antar negara ASEAN dalam menghadapi globalisasi ekonomi. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah sebentuk kerjasama masyarakat pada bidang ekomoni untuk membentuk pasar tunggal di Asia Tenggara dengan tujuan investasi asing dan terciptanya pemerataan capaian ekonomi dan pembangunan. Hal ini bisa dicapai melalui beberapa pendekatan strategis pembentukan pasar tunggal dengan kesatuan basis produksi, membentuk kawasan ekonomi dengan daya saing tangguh dan integrasi ekomoni untuk pemerataan. Untuk mewujudkan kesemua itu MEA membentuk kesepakatan agar tidak membatasi beberapa hal di antaranya Arus jasa, Arus modal, Arus investasi dan Arus tenaga kerja terlatih. Pendeknya negara yang tergabung dalam ASEAN dapat masuk dengan bebas dalam persaingan pasar. Masyarakat ekonomi ASEAN yang bebas dari berbagai hambatan, pengutamaan peningkatan konektivitas, dan pemanfaatan berbagai skema kerja sama.

Pariwisata adalah salah satu sektor yang disebut-sebut sebagai sektor yang paling siap bersaing dalam hingar bingar pasar bebas yang digagas negara-negara ASEAN melalui MEA. Bagaimana tidak sektor pariwisata pertumbuhannya selalu lebih tinggi di atas pertumbuhan ekonomi lainnya di Indonesia. Kekayaan budaya, alam dan keramahan masyarakatnya menjadi modal besar pariwisata di Indonesia layak dikembangkan dan dikunjungi wisatawan. Potensi alam semisal danau, laut, hutan tropis, gunung hingga taman nasional merupakan potensi alam yang potensial untuk menjadi daya tarik, kekayaan etnis berikut adat-istiadatnya yang tidak dijumpai di neraga manapun menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang diperhitungkan pada sektor pariwisata.
Berbicara tentang Bali memang tak pernah ada habisnya dilihat dari konteks apapun, pulau kecil dengan pesona budaya dan alam yang menakjubkan ini selalu menarik dikaji. Keunikannnya menjadikan Bali bak surga kecil yang jatuh ke bumi. Kondisi inilah yang menjadikan Bali begitu masyur di mata dunia. H.van Kol seorang parlemen Belanda adalah wisatawan yang dianggap pertama kali menginjakkan kakinya di Bali pada tahun 1902. Derasnya informasi tentang “keanehan” Bali makin menjadi ketika perusahaan pelayaran Belanda KPM (Knonniklijk Paketvarrt Maatscapij) tahun 1920 mempopulerkan Bali sebagai daerah tujuan wisata bagi pejabat tinggi Belanda. Bali kemudian di kenal dengan sebutan “Mutiara Kepulauan Nusa Tenggara”. Bali bahkan didaulat sebagai Island Destination Of The Year sebagai pengghargaan dalam ajang China Travel & Meeting Industry Awards 2013.

Saat ini Bali fokus untuk melakukan pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM). Langkah untuk bangun Kualitas SDM tersebut dalam upaya mempersiapkan diri untuk bisa bersaing di era global. Apalagi Bali tidak memiliki sumber daya alam, sehingga sangat tergantung pada perkembangan pariwisata budayanya. Pembangunan kualitas SDM Bali merupakan langkah yang paling penting dikarenakan Bali tidak memiliki apa-apa selain sumber daya manusia yang dilengkapi dengan budaya dan alam yang bisa dibilang sangat bagus. tanpa adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut, budaya dan alam bagus yang dimiliki Bali akan menjadi sia-sia.

Pemerintah Bali tidak hanya diam melihat perkembangan pariwisata yang kian hari makin pesat perkembangannya. Pemerintah pun mulai mempersiapkan Bali agar mampu tetap bertahan untuk bersaing dalam hal pariwisata. Pemerintah tidak hanya memperbaiki kualitas SDM Bali tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat di Bali untuk mampu bersaing dalam MEA. Dengan tangapnya Pemerintah untuk menghadapi Era Global ini, menjadikan Bali mampu tetap eksis bersaing bahkan tetap menjadi tempat destinasi wisata bagi para wisatawan asing.