DAMPAK INDUSTRI 4.0 PADA INDUSTRI PARIWISATA

Pariwisata merupakan industri yang menjajikan untuk Indonesia sebagai salah satu destinasi unggulan pariwisata internasional.  Indonesia yang diwakili oleh Bali masuk ke dalam sepuluh besar destinasi wisata terbaik dunia menurut TripAdvisor. Untuk terus mendukung keunggulan pariwisata nasional, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengajak milenial terlibat dalam Tourism 4.0.

Perkembangan teknologi informasi telah melanda masyarakat dalam wujud penggunaan gawai dan platform, seperti smartphone, teknologi informasi berbasis cloud, dan data analytic.  Seperti halnya dalam setiap revolusi industri sebelumnya, selalu ada peluang baru dan ancaman.  Pada tingkat perseorangan kemampuan yang dibutuhkan untuk menguasai teknologi informasi ialah kemampuan logika dan bahasa. 

Pariwisata 4.0 atau tourism 4.0 adalah nama untuk tren wisata saat ini dari pemrosesan data besar (big data) yang dikumpulkan dari sejumlah besar wisatawan, untuk menciptakan pengalaman perjalanan yang dipersonalisasi.  Ini didasarkan pada berbagai teknologi komputer modern berteknologi tinggi.  Istilah ini berasal dari paradigma baru dalam industri, yang dikenal sebagai Industri 4.0.

Pendekatan revolusi industri 4.0 pertama kali disampaikan oleh Klaus Schwab dalam tulisannya The Fourth Industrial Revolution.  Konsep ini menjelaskan lahirnya revolusi 4.0 yang ditandai dengan adanya perpaduan teknologi sebagai penyebab biasnya batas antara bidang fisik, digital, dan biologis.  Tiga hal tersebut, oleh Schwab diidentifikasi masuk sebagai perubahan megatrends di era revolusi industri 4.0.  Seluruh perkembangan dan perubahan dari revolusi ini, berujung pada satu kunci yang sama, yaitu melalui pemanfaatan kekuatan digitalisasi atas informasi.  Berangkat dari hal tersebut, konvergensi teknologi yang terjadi melalui pemanfaatan digitalisasi atas informasi, diistilahkan sebagai masa internet of things (IoT).  Istilah ini diartikan sebagai hubungan antara berbagai jenis hal seperti produk, layanan, tempat, dan sebagainya dengan orang-orang.  Hubungan ini terjadi melalui adanya pemanfaatan teknologi atas informasi yang diakses melalui beragam bentuk platform.  Era IoT, menjadi salah satu penyebab banyaknya pergeseran dalam situasi sosial masyarakat di berbagai sektor penting dunia.  Sektor pariwisata salah satunya.  Di sektor pariwisata, era IoT berdampak pada munculnya transformasi digital yang menjadi penyebab lahirnya tren tourism 4.0. 

Tranformasi digital inilah yang mengubah keseluruhan siklus ekosistem kepariwisataan, termasuk menjadi penyebab bergesernya budaya siber dan visual pada wisatawan.  Dampak pergeseran budaya siber yang terlihat dari transformasi digital pada era tourism 4.0, adalah adanya perubahan proses pengambilan keputusan berwisata pada generasi milenial. Tipikal budaya siber yang berfokus pada fenomena social and networking, menjadikan media sosial memiliki peran yang signifikan sebagai sumber rujukan generasi milenial dalam menentukan tujuan berwisata.  Melalui reportnya, Kelly menjelaskan, 85% wisatawan di dunia mengakui bahwa komentar, unggahan foto dan video di platform media sosial mempengaruhi rencana berwisata mereka.  Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Gelter Hans, dimana media sosial telah menjadi salah satu global megatrend dalam perkembangan digital yang secara signifikan berdampak pada ekosistem pariwisata dan mempengaruhi proses pengambilan keputusan berwisata.

Generasi milenial, menjadi subjek utama dari pergeseran budaya siber ini.  Hal ini disebabkan karena milenial merupakan generasi pertama yang menghabiskan seluruh hidup mereka di lingkungan digital.  Dalam era tourism 4.0, peran generasi milenial menjadi penting, terutama dari sisi penyebaran dan konsumsi informasi di media sosial terkait aktifitas berwisatanya.  Pengaruh media sosial terhadap pengambilan keputusan tidak hanya berhenti sampai disini.  Dalam skala besar, pergeseran budaya siber, pada akhirnya menyebabkan terjadinya pergeseran budaya visual pada wisatawan.  Saat ini wisatawan milenial cenderung untuk berkunjung ke sebuah destinasi yang secara visual menyenangkan.  Tujuannya tidak lain adalah untuk dapat mengabadikan moment “selfie“nya.  Taking a selfie telah menjadi bagian penting dalam berwisata.  Dari sinilah, muncul konsep pengembangan destinasi digital, dimana sebuah destinasi wisata, sengaja dibuat melalui pendekatan digital dengan konsep selfie spot destination.  Dua pengaruh dari munculnya era tourism 4.0 inilah yang menjadikan tulisan ini akan berfokus pada dua bahasan utama.  Diantaranya; (1) pergeseran budaya siber di sektor pariwisata Indonesia terkait penggunaan media sosial sebagai tools marketing melalui peran komunitas milenial, dan (2) pergeseran budaya visual wisatawan yang berdampak pada lahirnya destinasi digital di Indonesia.

Era tourism 4.0 terjadi karena pengaruh transformasi digital di sektor pariwisata.  Era ini telah memberikan perubahan signifikan pada ekosistem kepariwisataan terutama pada generasi milenial.  Dimana, sejak bergesernya budaya siber, milenial secara massive memanfaatkan platform digital untuk mengakses sejumlah informasi terkait pariwisata. Nampaknya, hal tersebut memiliki keterkaitan terhadap berubahnya ketertarikan wisatawan milenial akan sebuah destinasi dari sisi visualnya.  Kini, milenial lebih tertarik mengunjungi destinasi wisata karena ingin mengabadikan moment “selfie”nya.  Hal tersebut pada akhirnya menjadi sebuah siklus, dimana pergeseran budaya siber memiliki keterkaitan dengan bagaimana secara visual milenial tergerak untuk berwisata.  Siklus tersebut lebih lanjut digambarkan sebagai berikut.

Milenial merupakan generasi yang terlahir dalam kurun waktu tahun 1982 – 2000.  Dimana menurut UNWTO, akan ada sekitar 370 juta youth traveller dengan total pengeluaran 400 Milyar USD pada 2020 (UNWTO, 2016). Prediksi jumlah yang besar ini merupakan peluang besar menjadikan milenial sebagai target market bagi sektor pariwisata di dunia, termasuk Indonesia.  Tipikal wisatawan milenial yang “money poor, but time rich” ini, selain menjadikan milenial memiliki waktu yang ekstra untuk berada di sebuah destinasi wisata, juga menjadikan generasi ini memiliki karakteristik unik dibandingkan tipikal wisatawan lainnya. Diantaranya, (1) milenial akan tetap berwisata meskipun kondisi keuangan negara sedang tidak baik. Bahkan menurut UNWTO, milenial cenderung berwisata lebih lama saat keadaan keuangan cenderung sedang buruk. (2) Selanjutnya, milenial cenderung mengalokasikan pengeluaran mereka secara langsung pada komunitas lokal dan (3) memiliki kecenderungan untuk mengajak orang lain mengunjungi sebuah destinasi.  Setidaknya, tiga alasan inilah yang menjadikan sektor pariwisata Indonesia harus beradaptasi untuk menyesuaikan perubahan pasar pariwisata jika ingin menjangkau peluang milenial sebagai the future tourist.  Merespon hal tersebut, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) selaku leading sector pariwisata Indonesia melakukan dua inovasi kebijakan untuk beradaptasi pada situasi tersebut.  Diantaranya dengan (1) membentuk Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GENPI), sebuah komunitas dengan beranggotakan generasi milenial yang bertugas untuk mempromosikan pariwisata Indonesia melalui pemanfaatan media digital dan (2) mengembangkan konsep destinasi digital, dimana sebuah destinasi dikembangkan dan dikemas melalui pendekatan strategi pemasaran yang “kekinian”.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started