Be yourself; Everyone else is already taken.
— Oscar Wilde.
This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.
Be yourself; Everyone else is already taken.
— Oscar Wilde.
This is the first post on my new blog. I’m just getting this new blog going, so stay tuned for more. Subscribe below to get notified when I post new updates.
Dalam era globalisasi saat ini, sektor pariwisata merupakan industri terbesar dan terkuat dalam pembiayaan ekonomi global. Sektor pariwisata akan menjadi pendorong utama perekonomian dunia pada abad ke-21 dan menjadi salah satu industri yang mengglobal. Pariwisata telah memberikan devisa yang cukup besar bagi berbagai negara. Kegiatan Pariwisata di Indonesia sudah dilakukan sejak jaman dulu atau lebih tepatnya ketika masa kerajaan. Para pejabat kerajaan diketahui sangat gemar berpetualang walaupun daerah yang bisa dikunjungi terbatas karena terbatasnya sarana dan prasarana pada waktu itu.

Pariwisata sebagai suatu sektor kehidupan, telah mengambil peran penting dalam pembangunan perekonomian bangsa-bangsa di dunia. Kemajuan dan kesejahteraan yang makin tinggi telah menjadikan pariwisata sebagai bagian pokok dari kebutuhan atau gaya hidup manusia, dan menggerakkan jutaan manusia untuk mengenal alam dan budaya ke belahan atau kawasan dunia lainnya. Pergerakan jutaan manusia selanjutnya mengerakkan mata rantai ekonomi yang saling berkaitan menjadi industri jasa yang memberikan kontribusi penting bagi perekonomian dunia, perekonomian bangsa-bangsa, hingga peningkatan kesejahteraan ekonomi di tingkat masyarakat lokal.

Dalam rangka menuju integrasi ekonomi wilayah Asia Tenggara seperti yang tercantum dalam program ASEAN Economic Community (AEC) 2015, sektor pariwisata mulai diperhatikan secara serius oleh negara-negara ASEAN. Dimulai dengan adanya promosi melalui logo dan tagline/slogan pariwisata, Bentuk tagline/slogan tersebut yaitu, Brunei dengan Brunei The Green Heart of Borneo, Cambodia dengan Cambodia Kingdom of Wonder, Indonesia dengan Wonderful Indonesia, Laos dengan Laos Simply Beautiful, Malaysia dengan Malaysia Truly Asia, Myanmar dengan Mystical Myanmar, Philippines dengan It’s More Fun in The Philippines, Singapore dengan Your Singapore, Thailand dengan Amazing Thailand Always Amazes You, Vietnam dengan Vietnam Timeless Charm. ASEAN Tourism memiliki slogan Southeast Asia, Feel The Warmth yang menjadi mencitrakan seluruh pariwisata negara-negara anggota ASEAN, ini semua dibuat agar pariwisata di seluruh negara anggota ASEAN terlihat atraktif dan dapat menjadi pilihan para wisatawan internasional.
Salah satu dari tiga pilar yang menopang Komunitas ASEAN yang terintegrasi adalah Komunitas Ekonomi ASEAN. Sektor pariwisata menjadi sektor pendukung dalam integrasi tersebut, mengingat besarnya peluang dan potensi pariwisata Asia Tenggara yang mampu bersaing dengan kawasan lain di dunia. Hal ini dibuktikan dengan terus meningkatnya jumlah pengunjung dari tahun ke tahun.
Menghadapi globalisasi ekonomi dan persaingan perdagangan ASEAN melalui AFTA (Asean Free Trade Area), ASEAN mempercepat pembentukan MEA yang awalnya akan diimplementasikan pada tahun 2020 kemudian dipercepat menjadi tahun 2015. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan daya saing antar negara ASEAN dalam menghadapi globalisasi ekonomi. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah sebentuk kerjasama masyarakat pada bidang ekomoni untuk membentuk pasar tunggal di Asia Tenggara dengan tujuan investasi asing dan terciptanya pemerataan capaian ekonomi dan pembangunan. Hal ini bisa dicapai melalui beberapa pendekatan strategis pembentukan pasar tunggal dengan kesatuan basis produksi, membentuk kawasan ekonomi dengan daya saing tangguh dan integrasi ekomoni untuk pemerataan. Untuk mewujudkan kesemua itu MEA membentuk kesepakatan agar tidak membatasi beberapa hal di antaranya Arus jasa, Arus modal, Arus investasi dan Arus tenaga kerja terlatih. Pendeknya negara yang tergabung dalam ASEAN dapat masuk dengan bebas dalam persaingan pasar. Masyarakat ekonomi ASEAN yang bebas dari berbagai hambatan, pengutamaan peningkatan konektivitas, dan pemanfaatan berbagai skema kerja sama.

Pariwisata adalah salah satu sektor yang disebut-sebut sebagai sektor yang paling siap bersaing dalam hingar bingar pasar bebas yang digagas negara-negara ASEAN melalui MEA. Bagaimana tidak sektor pariwisata pertumbuhannya selalu lebih tinggi di atas pertumbuhan ekonomi lainnya di Indonesia. Kekayaan budaya, alam dan keramahan masyarakatnya menjadi modal besar pariwisata di Indonesia layak dikembangkan dan dikunjungi wisatawan. Potensi alam semisal danau, laut, hutan tropis, gunung hingga taman nasional merupakan potensi alam yang potensial untuk menjadi daya tarik, kekayaan etnis berikut adat-istiadatnya yang tidak dijumpai di neraga manapun menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang diperhitungkan pada sektor pariwisata.
Berbicara tentang Bali memang tak pernah ada habisnya dilihat dari konteks apapun, pulau kecil dengan pesona budaya dan alam yang menakjubkan ini selalu menarik dikaji. Keunikannnya menjadikan Bali bak surga kecil yang jatuh ke bumi. Kondisi inilah yang menjadikan Bali begitu masyur di mata dunia. H.van Kol seorang parlemen Belanda adalah wisatawan yang dianggap pertama kali menginjakkan kakinya di Bali pada tahun 1902. Derasnya informasi tentang “keanehan” Bali makin menjadi ketika perusahaan pelayaran Belanda KPM (Knonniklijk Paketvarrt Maatscapij) tahun 1920 mempopulerkan Bali sebagai daerah tujuan wisata bagi pejabat tinggi Belanda. Bali kemudian di kenal dengan sebutan “Mutiara Kepulauan Nusa Tenggara”. Bali bahkan didaulat sebagai Island Destination Of The Year sebagai pengghargaan dalam ajang China Travel & Meeting Industry Awards 2013.

Saat ini Bali fokus untuk melakukan pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM). Langkah untuk bangun Kualitas SDM tersebut dalam upaya mempersiapkan diri untuk bisa bersaing di era global. Apalagi Bali tidak memiliki sumber daya alam, sehingga sangat tergantung pada perkembangan pariwisata budayanya. Pembangunan kualitas SDM Bali merupakan langkah yang paling penting dikarenakan Bali tidak memiliki apa-apa selain sumber daya manusia yang dilengkapi dengan budaya dan alam yang bisa dibilang sangat bagus. tanpa adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut, budaya dan alam bagus yang dimiliki Bali akan menjadi sia-sia.

Pemerintah Bali tidak hanya diam melihat perkembangan pariwisata yang kian hari makin pesat perkembangannya. Pemerintah pun mulai mempersiapkan Bali agar mampu tetap bertahan untuk bersaing dalam hal pariwisata. Pemerintah tidak hanya memperbaiki kualitas SDM Bali tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat di Bali untuk mampu bersaing dalam MEA. Dengan tangapnya Pemerintah untuk menghadapi Era Global ini, menjadikan Bali mampu tetap eksis bersaing bahkan tetap menjadi tempat destinasi wisata bagi para wisatawan asing.
Bisnis guest house menjadi salah satu bisnis dengan prospek yang sangat cemerlang. Bisnis guest house atau biasa dinamakan bisnis penginapan saat ini bisa dibilang sangat prospek. Bisnis guest house saat ini memang tumbuh sangat pesat dan mulai menjamur diberbagai tempat. Tingginya jumlah wisatawan yang ada di indonesia baik wisatawan dalam negeri hingga asing membuat peluang bisnis guest house patut diperhitungkan. Memulai bisnis guest house menjadi salah satu langkah yang sangat tempat. Secara umumnya usaha penginapan atau guest house dapat dikembang dalam lokasi atau daerah yang sering didatangi banyak wisaawan jika Anda memiliki sebuah rumah hunian dekat tempat wisata yang kurang dimaksimalkan maka bisnis guest house patut Anda jalankan sebagai sebuah solusi.

Di berbagai kota-kota besar dimana setiap hari libur telah tiba jumlah pengunjung pun makin ramai dan dari mereka selalu mencari tempat penginapan. Tak jarang para pengusaha penginapan baik hotel, vila sering mengalami kewalahan dengan berbagai alasan. Bayaknya dari para pengunjung yang khususnya berlibur bersama keluarga lebih memang menggunakan guest house dibandingkan hotel. Penggunaan guest house memang membuat penggunaannya lebih nyaman, praktis dan leluasa. Dengan jumlah anggota yang banyak menjadi satu tempat penginapan tentu membuat keharmonisan keluarga lebih terjaga. Selain kenyamanan, tempat penginapan seperti guest house ini dari segi biaya bisa dikata lebih ekonomis dibandingkan menggunakan kamar hotel dengan harga sewa yang tinggi. Sebenarnya tidak hanya pengunjung yang datang berombongan saja yang sering menggunakan guest house. Namun bagi mereka yan berkunjung perorangan banyak yang menggunakan guest house dengan alasan lebih nyaman dan leluasa bagai menginap di rumah sendiri.
Peruntungan bisnis guest house memang dibilang sangat menjanjikan. Dari waktu ke waktu bisnis guest house terus tumbuh dengan sangat pesat. Prospek bisnis guest house memang untuk jangka kedepannya terbilang gemilang. Dimana setiap tahun, usaha ini makin tumbuh subur dan memiliki jumlah pengunjung yang makin meningkat. Pertumbuhan bisnis guest house yang menunjukan profit yang bagus membuat laba bisnis penginapan ini juga sangat tinggi. Banyak pengusaha bisnis guest house yang sukses dengan mendatangkan omset yang tinggi.
Strategi yang dibutuhkan dalam menjalankan bisnis guest house, antara lain :

Dalam menjalankan bisnis guest house, penentuan lokasi memang memiliki peran yang penting. Sebuah hunian guest house terbaik tentu memiliki lokasi yang strategis dimana diketahui banyak orang serta mudah dijangkau. Sebisa mungkin pilih lokasi yang dekat dengan kota atau dekat dengan tempat wisata. Pastikan pula lokasi yang dipilih aman dari bencana seperti banjir atau longsor. Dengan melihat potensi lokasi maka bisa menentukan kelayakan tepat yang hendak akan dipilih.

Seringkali pengunjung guest house memilih hunian dengan banyak kamar sehingga jumlah keluarga yang ditampung akan lebih memadai. Pastikan untuk memberikan hunian kamar yang lebih dari 3 dengan luas yang memaai. Pemberian kamar mandi dalam satu kamar memang membuat nilai plus.
Peran halaman rumah memang cukup penting dalam mengasup oksigen. Untuk itu berikan halaman luas dengan beraneka tanaman hijau yang membuat kesan sejuk dan segar. Hal ini juga membuat keindahan serta eksotisme rumah yang menyatu dengan alam.

Pengatuaran desain interior memang memberikan kesan sebuah hunian yang layak dan aman untuk dihuni. Buatlah dekor ruangan atau rumah dengan semenarik mungkin dengan tonjolan kreasi, dan inovasi menarik. Penataan ruang dengan proporsional perlu untuk diperhatikan. Desain yang direkomendasikan dari arsitek bisa membantu mewujudkan suatu keindahan ruang hunian. Hal ini juga membuat pengunjung merasa senang, betah dan nyaman dengan hunian yang rapi, indah dan sangat cantik.

Sebuah rumah hunian juga membutuhkan fasilitas hiburan yang membuat setiap penggunanya betah. Misal Anda dapat menyediakan televisi, PS, radio atau komputer. Atau bisa menyediakan tempat karaoke di dalam rumah yang membuat pengunjung merasa senang.

Pariwisata merupakan industri yang menjajikan untuk Indonesia sebagai salah satu destinasi unggulan pariwisata internasional. Indonesia yang diwakili oleh Bali masuk ke dalam sepuluh besar destinasi wisata terbaik dunia menurut TripAdvisor. Untuk terus mendukung keunggulan pariwisata nasional, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengajak milenial terlibat dalam Tourism 4.0.
Perkembangan teknologi informasi telah melanda masyarakat dalam wujud penggunaan gawai dan platform, seperti smartphone, teknologi informasi berbasis cloud, dan data analytic. Seperti halnya dalam setiap revolusi industri sebelumnya, selalu ada peluang baru dan ancaman. Pada tingkat perseorangan kemampuan yang dibutuhkan untuk menguasai teknologi informasi ialah kemampuan logika dan bahasa.

Pariwisata 4.0 atau tourism 4.0 adalah nama untuk tren wisata saat ini dari pemrosesan data besar (big data) yang dikumpulkan dari sejumlah besar wisatawan, untuk menciptakan pengalaman perjalanan yang dipersonalisasi. Ini didasarkan pada berbagai teknologi komputer modern berteknologi tinggi. Istilah ini berasal dari paradigma baru dalam industri, yang dikenal sebagai Industri 4.0.
Pendekatan revolusi industri 4.0 pertama kali disampaikan oleh Klaus Schwab dalam tulisannya The Fourth Industrial Revolution. Konsep ini menjelaskan lahirnya revolusi 4.0 yang ditandai dengan adanya perpaduan teknologi sebagai penyebab biasnya batas antara bidang fisik, digital, dan biologis. Tiga hal tersebut, oleh Schwab diidentifikasi masuk sebagai perubahan megatrends di era revolusi industri 4.0. Seluruh perkembangan dan perubahan dari revolusi ini, berujung pada satu kunci yang sama, yaitu melalui pemanfaatan kekuatan digitalisasi atas informasi. Berangkat dari hal tersebut, konvergensi teknologi yang terjadi melalui pemanfaatan digitalisasi atas informasi, diistilahkan sebagai masa internet of things (IoT). Istilah ini diartikan sebagai hubungan antara berbagai jenis hal seperti produk, layanan, tempat, dan sebagainya dengan orang-orang. Hubungan ini terjadi melalui adanya pemanfaatan teknologi atas informasi yang diakses melalui beragam bentuk platform. Era IoT, menjadi salah satu penyebab banyaknya pergeseran dalam situasi sosial masyarakat di berbagai sektor penting dunia. Sektor pariwisata salah satunya. Di sektor pariwisata, era IoT berdampak pada munculnya transformasi digital yang menjadi penyebab lahirnya tren tourism 4.0.

Tranformasi digital inilah yang mengubah keseluruhan siklus ekosistem kepariwisataan, termasuk menjadi penyebab bergesernya budaya siber dan visual pada wisatawan. Dampak pergeseran budaya siber yang terlihat dari transformasi digital pada era tourism 4.0, adalah adanya perubahan proses pengambilan keputusan berwisata pada generasi milenial. Tipikal budaya siber yang berfokus pada fenomena social and networking, menjadikan media sosial memiliki peran yang signifikan sebagai sumber rujukan generasi milenial dalam menentukan tujuan berwisata. Melalui reportnya, Kelly menjelaskan, 85% wisatawan di dunia mengakui bahwa komentar, unggahan foto dan video di platform media sosial mempengaruhi rencana berwisata mereka. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Gelter Hans, dimana media sosial telah menjadi salah satu global megatrend dalam perkembangan digital yang secara signifikan berdampak pada ekosistem pariwisata dan mempengaruhi proses pengambilan keputusan berwisata.

Generasi milenial, menjadi subjek utama dari pergeseran budaya siber ini. Hal ini disebabkan karena milenial merupakan generasi pertama yang menghabiskan seluruh hidup mereka di lingkungan digital. Dalam era tourism 4.0, peran generasi milenial menjadi penting, terutama dari sisi penyebaran dan konsumsi informasi di media sosial terkait aktifitas berwisatanya. Pengaruh media sosial terhadap pengambilan keputusan tidak hanya berhenti sampai disini. Dalam skala besar, pergeseran budaya siber, pada akhirnya menyebabkan terjadinya pergeseran budaya visual pada wisatawan. Saat ini wisatawan milenial cenderung untuk berkunjung ke sebuah destinasi yang secara visual menyenangkan. Tujuannya tidak lain adalah untuk dapat mengabadikan moment “selfie“nya. Taking a selfie telah menjadi bagian penting dalam berwisata. Dari sinilah, muncul konsep pengembangan destinasi digital, dimana sebuah destinasi wisata, sengaja dibuat melalui pendekatan digital dengan konsep selfie spot destination. Dua pengaruh dari munculnya era tourism 4.0 inilah yang menjadikan tulisan ini akan berfokus pada dua bahasan utama. Diantaranya; (1) pergeseran budaya siber di sektor pariwisata Indonesia terkait penggunaan media sosial sebagai tools marketing melalui peran komunitas milenial, dan (2) pergeseran budaya visual wisatawan yang berdampak pada lahirnya destinasi digital di Indonesia.
Era tourism 4.0 terjadi karena pengaruh transformasi digital di sektor pariwisata. Era ini telah memberikan perubahan signifikan pada ekosistem kepariwisataan terutama pada generasi milenial. Dimana, sejak bergesernya budaya siber, milenial secara massive memanfaatkan platform digital untuk mengakses sejumlah informasi terkait pariwisata. Nampaknya, hal tersebut memiliki keterkaitan terhadap berubahnya ketertarikan wisatawan milenial akan sebuah destinasi dari sisi visualnya. Kini, milenial lebih tertarik mengunjungi destinasi wisata karena ingin mengabadikan moment “selfie”nya. Hal tersebut pada akhirnya menjadi sebuah siklus, dimana pergeseran budaya siber memiliki keterkaitan dengan bagaimana secara visual milenial tergerak untuk berwisata. Siklus tersebut lebih lanjut digambarkan sebagai berikut.

Milenial merupakan generasi yang terlahir dalam kurun waktu tahun 1982 – 2000. Dimana menurut UNWTO, akan ada sekitar 370 juta youth traveller dengan total pengeluaran 400 Milyar USD pada 2020 (UNWTO, 2016). Prediksi jumlah yang besar ini merupakan peluang besar menjadikan milenial sebagai target market bagi sektor pariwisata di dunia, termasuk Indonesia. Tipikal wisatawan milenial yang “money poor, but time rich” ini, selain menjadikan milenial memiliki waktu yang ekstra untuk berada di sebuah destinasi wisata, juga menjadikan generasi ini memiliki karakteristik unik dibandingkan tipikal wisatawan lainnya. Diantaranya, (1) milenial akan tetap berwisata meskipun kondisi keuangan negara sedang tidak baik. Bahkan menurut UNWTO, milenial cenderung berwisata lebih lama saat keadaan keuangan cenderung sedang buruk. (2) Selanjutnya, milenial cenderung mengalokasikan pengeluaran mereka secara langsung pada komunitas lokal dan (3) memiliki kecenderungan untuk mengajak orang lain mengunjungi sebuah destinasi. Setidaknya, tiga alasan inilah yang menjadikan sektor pariwisata Indonesia harus beradaptasi untuk menyesuaikan perubahan pasar pariwisata jika ingin menjangkau peluang milenial sebagai the future tourist. Merespon hal tersebut, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) selaku leading sector pariwisata Indonesia melakukan dua inovasi kebijakan untuk beradaptasi pada situasi tersebut. Diantaranya dengan (1) membentuk Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GENPI), sebuah komunitas dengan beranggotakan generasi milenial yang bertugas untuk mempromosikan pariwisata Indonesia melalui pemanfaatan media digital dan (2) mengembangkan konsep destinasi digital, dimana sebuah destinasi dikembangkan dan dikemas melalui pendekatan strategi pemasaran yang “kekinian”.
“Kekinian”, begitulah kata yang tepat untuk menggambarkan generasi saat ini. Mereka yang masuk dalam generasi ini lahir pada kisaran tahun 1980 sampai awal 1990-an. Generasi ini punya kecenderungan berbeda saat traveling. Traveling menjadi salah satu kegiatan yang paling sering dilakukan oleh generasi milenial. Bisa dibilang sebagian besar dari pendapatan mereka dialokasikan untuk kegiatan tersebut. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan generasi zaman dulu yang lebih memilih untuk mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk investasi jangka panjang, seperti mobil atau rumah.
Generasi Milenial lahir ketika dunia teknologi sudah mulai berkembang dan siap menyambut masa depan. Dengan internet, seluruh dunia terasa ada di telapak tangan kita. Kita bisa melihat hampir 90% seluruh isi dunia melalui peta hingga jalan yang biasa kita lewati sekalipun. Di sanalah letak rasa ingin tahu dan penasaran untuk merasakan langsung keindahan dunia dan mendapatkan pengalaman baru mendorong mereka untuk traveling. Terutama, dengan adanya media sosial yang menjadi pemicu utama mereka, bagi para millenial yang sosialita ingin bepergian keliling dunia.
Di Indonesia, terdapat komunitas-komunitas bagi para traveler untuk melakukan traveling bersama orang-orang baru yang sama-sama memiliki hobi traveling sehingga memperluas jaringan dan menambah informasi destinasi wisata. Untuk destinasi wisata, 59% Millennial travelers lebih memilih wisata alam seperti gunung, pantai, dan pulau. Para Millennial travelers mengetahui destinasi wisata tersebut dari berbagai sumber, salah satunya adalah sosial media.
Generasi Millennials sendiri tak lepas dari teknologi, terutama internet dan social media. Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Puskakom Universitas Indonesia (UI) melakukan survei pada 7000 responden yang menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia pada tahun 2014 menembus angka 88.1 juta yang 49% di antaranya merupakan generasi Millennials. Para traveler tersebut kemudian membagikan pengalaman traveling mereka ke berbagai social media melalui perangkat mobile. Hasil survei JakPat pada tahun 2016 membuktikan bahwa 86% orang Indonesia meng-upload foto liburan mereka ke social media. Laki-laki dan perempuan memiliki preferensi social media yang berbeda untuk membagikan foto-foto liburan mereka. Sebanyak 51% laki-laki Indonesia memilih social media Facebook sebagai media untuk mengupload foto liburan dan 36% memilih untuk meng-upload foto liburan mereka ke social media Instagram. Sedangkan untuk perempuan, dengan jumlah masing-masing 40% perempuan Indonesia meng-upload foto liburan mereka ke social media Facebook dan Instagram.
Berikut ini adalah ciri-ciri traveler millenial masa kini :

Para millenial yang rela menabung uang jajan mereka untuk traveling bersama teman-temannya ketimbang membeli barang idaman mereka. Beberapa millenial sampai membuat sistem perbendaharaannya sendiri. Mereka memang cenderung lebih niat dan berkomitmen pada planning mereka karena menurutnya, traveling bersama teman-teman akan lebih seru ketimbang bersama travel agent. Millenial adalah generasi yang sangat menyukai kebebasan, apalagi menentukan destinasi tujuan ketika traveling. Mereka juga tidak suka diatur dan mengikuti jadwal yang telah ditentukan oleh travel agent karena konsep mereka traveling adalah ‘escape from reality’. Sehingga tidaklah heran mengapa mereka cenderung lebih menyukai bepergian bersama teman-temannya yang memiliki interest yang sama ketimbang bepergian dengan travel agent.

Backpacking adalah trend traveling masa kini. Selain lebih praktis, backpacking juga dikenal sebagai jalan-jalan dengan budget yang masih bersahabat di kantong, terutama bagi beberapa para generasi millenial yang belum memiliki mata pencaharian sendiri atau belum stabil dalam pekerjaannya, dan ingin pergi traveling. Dengan trend backpacing ini, semakin memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk bisa traveling dengan budget yang lebih sesuai.

Sebagai generasi yang terlahir dengan peradaban teknologi yang sudah cukup maju. Generasi millennial pasti sudah sangat “best friend” dengan gadget ataupun smartphone mereka. Hanya dengan sentuhan pada layar, semua kesulitan saat traveling dapat teratasi dengan segala kemudahan yang tersedia. Dari proses planning hingga ketika traveling, para millenial akan mengandalkan teknologi sepenuhnya. Mulai dari booking transportasi dan akomodasi, browsing destinasi favorit yang direkomendasikan oleh banyak orang, tahap budgeting tentang perkiraan biaya pengeluaran, atau bahkan untuk melihat peta. Semuanya serba teknologi, gadget, atau yang gemar disapa sebagai smartphone.

Update pictures is a must! Entah itu selfie, wefie, foto pemandangan alam, foto bergaya, atau bahkan foto candid. Pamer foto saat traveling sih sudah seperti tradisi dan kewajiban bagi para millenial. Jalan-jalan tanpa update foto pasti rasanya seperti makan nasi tanpa lauk! Biasanya, para generasi millenial lebih memilih pergi ke destinasi dengan pemandangan atau background yang bagus untuk foto di feed Instagram mereka. Semakin Instagrammable dan artistik, maka semakin bagus. Sadar atau tidak, media sosial adalah pemicu sekian banyak generasi millenial yang ingin pergi traveling. Rasa keingin tahuan dan iri dengan foto-foto di Instagram orang lain menjadi pemicu dan alasan yang kuat.

Biasanya, pilihan untuk tinggal di hotel menjadi pilihan yang paling terakhir untuk para generasi millenial, mereka lebih suka untuk tinggal di guest house, hostel, atau sewa rumah / apartemen seperti melalui Airbnb. Seperti yang dibahas di atas, mereka biasanya traveling ber-grup bersama teman-temannya dan mereka akan lebih merasakan kebersamaan apabila tinggal dalam satu rumah. Merasakan kenyamanan tinggal bersama teman-teman dalam satu rumah saat liburan, membuat mereka merasa lebih nyaman dan bonding satu sama lain.
This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.
You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.
Why do this?
The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.
To help you get started, here are a few questions:
You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.
Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.
When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.